Rabu, 28 Januari 2015

FF Member // HunHan - No good in goodbye // Oneshoot // SeLuminati

cr : https://www.facebook.com/notes/874113002611310/

FF Member // HunHan - No good in goodbye // Oneshoot // SeLuminati

Tittle                : No good in goodbye
Author              : SeLuminati
Main Cast         : HunHan
Other Cast        : Member EXO
Rate                   : T
Genre                 : Angst,Friendship.
Length               : OneShoot.
Disclaimer          : EXO Milik Tuhan,Orangtua mereka,SM dan Jodoh mereka (saya).
Note                  :  Dapet inspirasi ketika lagi dengerin lagu the script yang No good in goodbye jam 3 subuh dan sedang memikirkan kenapa harus OTP saya yang berpisah /nangis tersedu/.  Oh iya yang mau liat karya aku yang lain bisa tengok FB page aku di: SeLuminati.

No Good in Goodbye
Luhan terengah-engah, tangannya ia tumpu dilutut. Ia melihat sekeliling, semua member EXO dalam keadaan yang sama. Berkeringat, dan tergeletak dilantai ruang latihan karena kelelahan. Tapi senyum masih menghiasi wajah mereka. Saat ia tidak sengaja bertatapan dengan Chanyeol, Chanyeol memberikan senyum dan tertawa. Luhan ikut tertawa,diikuti dengan member lainnya. Tanpa berkata apapun mereka mengerti pesan satu sama lain. Mereka lelah namun tetap bersemangat. Album baru yang mereka sedang siapkan mereka yakini akan menembus peringkat pertama lagi seperti album mereka sebelumnya. Luhan tidak peduli seberapa lelah tubuhnya, seberapa sakit yang ia rasakan ditulang-tulangnya. Luhan menatap Yixing,Wufan dan Tao. Mereka jauh dari rumah tapi mereka masih bisa tertawa. Itulah kenapa Luhan kuat selama ini walaupun harus jauh dari rumahnya. Karena mereka bersama, walaupun terasa lelah dan sulit, rintangan apapun akhirnya akan terlewati.
Itu yang dipikirkan Luhan selama ini. Selama mereka bersama, masalah apapun dapat terlewati. Maka dari itu ia tidak pernah menyangka masalah seperti ini akan datang.
Mereka mengadakan showcase kedua mereka di Cina. Showcase yang diadakan begtiu meriah dan terbilang sukses. Management bahkan menghadiahi keberhasilan showcase tersebut dengan mempercayai EXO untuk mempunyai Konser tunggal mereka sendiri. Maka dari itu setelah pulang dari Cina mereka akan langsung mempersiapkan konser mereka. Luhan tahu itu akan terasa berat dan melelahkan, tapi selama ada member yang lain,semua akan baik-baik saja.
Pagi itu dibandara, Luhan dan 11 member EXO yang lain menunggu jadwal penerbangan di VIP Lounge. Saat jadwal penerbangan mereka tiba, semua member beranjak pergi namun tidak dengan Kris.
“Kris,Ayo!” ajak Luhan.
Wajah Kris terlihat muram, dan terlalu serius dimata Luhan. Teman seumurannya ini tidak pernah memasang ekspresi itu. Luhan mencium sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Luhan,” panggil Kris, “Aku tidak akan kembali.”
Kalimat yang singkat. Namun Luhan mengerti arti dibalik kalimat itu. Luhan merekam kalimat itu dengan baik dan kalimat itu menohok hatinya saat ia dengan lemas berjalan menyusul member lain. Tanpa Kris.


Sehun mendongak, menatap ruangan sekitarnya. Ia sedang ada di suatu ruangan rapat di kantor SM. Tidak ada yang berbicara, bahkan Baekhyun hyung yang biasanya tidak bisa berhenti berbicara, terdiam seribu bahasa. Keadaan diruangan itu begitu seram, seperti ada awan hitam tebal yang menyelimutinya.
Berita Kris memutus kontrak dengan SM baru ia dengar pagi ini, ketika ia terbangun dan melihat Suho hyung menghapus air matanya cepat sambil berbicara dengan manager.
Sehun menatap Tao yang menangis sesenggukkan. Tidak bisa dipungkiri kalau Tao adalah yang paling merasa sedih disini. Tentu saja. Tao dan Kris sangat dekat. Tao sangat bergantung kepada Kris.
Luhan yang duduk disebelah Sehun hanya diam. Pandangannya terlihat kosong. Tangannya yang kecil terkepal erat diatas pahanya.
“Hyung,” panggil Sehun pelan. Luhan terkesiap dan menatap Sehun.
“Ya Sehun?”
Luhan tersenyum kecil. Senyum yang ia paksakan dan membuat Sehun merasa iba melihatnya.
Tangan Sehun bergerak menyelimuti tangan Luhan yang terkepal, ia lalu menggenggam tangan Luhan dan menariknya untuk berdiri.
Sehun meminta izin untuk pergi keluar bersama Luhan yang kebingungan. Manager hanya mengangguk lemah dan membiarkan Sehun dan Luhan meninggalkan ruangan tersebut.
“Kenapa kau membawaku Keluar?” tanya Luhan namun Sehun tidak menjawab dan membawa Sehun ke pintu darurat.
“Sehun?”
Mereka berada di lorong emergency exit sekarang, dimana tidak ada orang yang bisa melihat mereka.
“Sehun apa yang ka-”
Perkataan Luhan terpotong saat Sehun memeluk tubuh Luhan erat. Dengan hati-hati ia melingkarkan tangannya ditubuh Luhan, dan mengusap punggung Luhan dengan tangannya yang lain.
“Kau boleh menangis sekarang.”
Luhan menggigit bibir bawahnya. Dadanya begitu sesak,hatinya tidak bisa lagi menahan kesedihan yang harus ia pendam. Luhan tidak sekuat yang orang lain pikir. Masalah ini tentu sangat mempengaruhinya. Kris adalah sahabatnya, mereka berjuang bersama di negara lain, berjanji untuk selalu bersama dan menyemangati satu sama lain. Tapi kenapa bisa Kris meninggalkan dirinya? Meninggalkan EXO M, meninggalkan EXO?
“Sehun,” isak Luhan sambil membalas pelukkan Sehun, “Sehun-ah!!”
Luhan tidak peduli seberapa konyol ia terdengar sekarang. Merengek seperti bayi, menangis terisak seperti perempuan. Ia hanya ingin menangis dipelukkan Sehun. Mengeluarkna semua amarah,kekecewaan dan kesedihan yang ia pendam.
Sehun tidak meledek, atau mengenyahkan Luhan karena Luhan membasahi kemeja mahalnya. Ia malah memeluk Luhan lebih erat, mengusap punggung Luhan dan membisikkan kata-kata menenangkan untuk Luhan.
Sehun hanya melakukan itu. Tidak sampai Luhan mengatakan hal yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Sehun meneteskan air matanya.
“Sehun-ah, aku sudah tidak kuat lagi.”
Comeback, persiapan konser dan syuting beberapa variety show kembali EXO lakukan. Hal itu sedikit demi sedikit mengalihkan mereka dari masalah tentang Kris.  Satu persatu member berusaha untuk kembali ceria, berusaha untuk tidak membahas topik yang menyerempet masalah itu. Sehun perhatikan Luhan tidak lagi sesedih dulu. Walaupun begitu, kebugarannya menurun drastis. Sehun sadar akan hal ini. Luhan mudah kelelahan dan terkena penyakit seperti flu dan demam. Sehun yang sekamar dengannya sering merawat Luhan saat ia sedang sakit. Suatu kali ketika demam Luhan meninggi, dengan setengah sadar Luhan memegang tangan Sehun erat dan air mata menetes dari matanya yang setengah terpejam.
“Sehun-ah, aku ingin pulang.”
Sehun terus memikirkan kalimat itu hingga sekarang. Luhan tentu tidak pernah berkata seperti itu lagi, dan ia kembali seperti biasa. Namun Sehun sering kali melihat kesedihan terpancar dari wajah Luhan. Bagaimana senyum kecil Luhan terasa menyakitkan terlihat oleh Sehun.
Sehun juga sering mendapati Luhan terjaga pada larut malam, menelepon orang tuanya di Beijing sambil menangis.
Luhan tidak lagi sebahagia dulu.
“Kalau kau ingin keluar dan pergi. Kau harus pergi.” Kata-kata itu tidak bermaksud kasar keluar dari bibir Sehun. Ia hanya ingin hyung-nya kembali bahagia. Walaupun tidak sepenuhnya ia tulus mengatakan itu tapi Sehun mengenyahkan rasa sedihnya.
Luhan yang mendengarnya tersenyum kecil, “Kalau aku pergi, bagaimana denganmu?”
Pertanyaan itu membuat Sehun tertegun.
Ah,
Jadi hal yang menahan Luhan untuk tetap bertahan adalah dirinya?
Apakah karena janji polos yang mereka berdua buat dulu?
Mereka memang sudah berteman sejak mereka masih menjadi trainee. Bahkan mereka adalah teman satu kamar. Sehun dan Luhan sangat dekat. Waktu dulu Luhan pernah berjanji akan merawat dan menjaga Sehun, ia berjanji tidak akan pergi dari sisi Sehun saat mereka ditunjuk menjadi member EXO.
Apakah karena janji itu?
Otak Sehun menjawab ya. Yang menahan hyungnya tetap tinggal adalah dia.
“Aku akan baik-baik saja bahkan ketika kau pergi.”
Sehun ingin membuktikan bahwa ia tidak main-main dengan kata-katanya. Sehun sengaja menghabiskan waktu dengan teman-temannya, (berpura-pura) bersenang-senang dan mengabadikannya dalam foto dan mengunduhnya ke instagram. Ia ingin membuktikan kepada Luhan bahwa Luhan tidak perlu khawatir akan dirinya.
Walaupun dihati kecilnya Sehun berharap Luhan tidak semudah itu menyerah dan mengatakan bahwa ia takan tinggal dan berjuang bersama dengan Sehun.
Tapi harapan di hati kecilnya itu tidak terwujud.
Luhan pergi ke Beijing setelah konser mereka di Indonesia. Ia bilang ia akan berlibur sebentar dan beristirahat disana. Sehun ingin sekali menghubungi Luhan namun ia menahannya. Walaupun Rindu,Sehun tetap menahan rasa rindunya dan bertingkah ia tidak peduli walaupun hatinya berdegup kencang mendengar suara Luhan yang sedang ditelepon Minseok.
Sehun dan member lainnya terbang menuju Beijing untuk konser mereka. Sehun menutupi rasa riangnya dengan ekspresinya yang datar walaupun ia sudah tidak sabar untuk bertemu Luhan.
Saat ia bertemu Luhan, Luhan terlihat begitu berbeda. Matanya yang terkena infeksi terlihat bengkak,namun tetap terlihat indah. Rambut pirangnya ia cat coklat pekat. Luhan tersenyum kecil kepada Sehun.
“Hai Sehun.”
“H-hai,” jawab Sehun canggung.
Luhan mendekat dan terdiam. Ia terlihat ragu dengan menggigit bibir bawahnya.
“Selama disini, aku memikirkan keputusanku.”
Jantung Sehun berdegup cepat. Luhan belum meengatakan jawabannya namun Sehun sudah merasakan hatinya terasa perih.
“Aku akan pergi.”
Dunia Sehun seakan dihancurkan oleh kalimat tersebut.
Sehun sudah menebaknya, tapi tetap saja ia merasa kecewa. Selama konser berlangsung ia tidak tahan jika berdekatan dengan Luhan. Ia tidak bisa menahan hasratnya untuk memeluk Luhan, memintanya untuk jangan pergi dan tetap tinggal. Tapi Sehun tahu jika ia menahan Luhan pergi sama saja dengan ia menyiksa Luhan.
Member yang lain memanja Luhan, memeluk Luhan disana dan disini dengna mesra. Luhan tidak seperti Kris, ia memberitahu keputusannya kepada semua member. Tapi rasa sakit yang mereka rasakan tidak berbeda dari sebelumnya.
Konser usai dan para member makan bersama untuk merayakan keberhasilan konser mereka dan walaupun tidak ada seorangpun yang menyebut, untuk mengadakan perpisahan mereka dengan Luhan.
Sehun masih diam. Tidak mengatakan apapun dan berbicara apapun malam itu. Lelucon Baekhyun dan Chanyeol bahkan tidak berhasil membuat Sehun tertawa bahkan menampakkan seulas senyum.
Bagaimana ia bisa tersenyum jika seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya tidak akan lagi berada disisinya?
Mereka pulang ke Korea esok harinya. Dengan Luhan yang tinggal disana. Tinggal dan tidak akan kembali. Luhan mengantarkan Sehun dan member lainnya pulang.
Sehun menatap Luhan yang berbalik pergi bersama temannya dari cina dan tersenyum pahit.
Menatap seseorang pergi begitu sulit.
Tapi lebih sulit saat mengingat waktu ketika mereka berjanji mereka tidak akan pergi.
Sehun mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk Luhan. Ia mengirimnya sebelum ia melangkah untuk meninggalkan Beijing.  Meninggalkan Luhan.
Berbahagialah,Hyung. Kau tahu aku akan selalu menyayangimu.
EPILOG
Sehun menatap nanar foto terbaru Luhan yang ia temukan di Weibo. Ia berambut coklat terang sekarang, mengingatkan Sehun akan sosok Luhan saat mereka masih mempromosikan mini album pertama mereka ditahun 2012. Luhan masih terlihat muda, tampan, dan indah. Tidak ada yang berubah dari dirinya.
Atau ada yang berubah dari dirinya.
Luhan mungkin sudah tidak lagi meminum bubble tea.
Ia mungkin tidak lagi mengingat janjinya pada Sehun.
Ia mungkin tidak lagi mengingat Sehun.
Sehun tersenyum tipis. Selama Luhan bahagia, walaupun ia melupakan Sehun, Sehun akan  baik-baik saja.

Sehun menghela nafas lalu merebahkan kepalanya, menatap langit-langit dikamarnya yang dulu ia bagi bersama Luhan.
Mungkin, di dunia lain, di dunia paralel, di dunia alternatif atau apapun namanya, Ia dan Luhan sedang bersama. Mungkin di dunia itu, mereka hanya remaja biasa dimana Luhan adalah seorang pesepak bola dan Sehun adalah kekasihnya yang seorang penulis novel. Mungkin didunia itu mereka tinggal bersama, walaupun kadang bertengkar tapi mereka mencintai satu sama lain.
Mungkin di dunia itu, Luhan berjanji tidak akan pernah pergi dari sisi Sehun. Dan Mungkin, Luhan didunia itu,benar-benar menepati janjinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar