Keadaan yang teramat
menakutkan. Api berkobar dimana-mana, petir menyambar setiap saat ditambah
dengan gelombang air yang mengejar. Terlihat juga angin yang begitu kencang menyapu
mereka yang tengah berusaha melarikan diri.
“Jangan Mundur! SERANG
MEREKA!!” teriakkan penuh amarah dilontarkan oleh seorang Pria yang mengenakan baju
serba hitam ditambah dengan pedang dikedua belah sisi.
Ia segera meluncurkan
alat-alat tajam yang keluar dari dalam jemarinya.
‘AKh!’ jerit salah
seorang yang terkena alat itu, darah segar mengalir dari perutnya.
“LUHAN!” teriak panik
namja berlesung pipit, ia segera berlari menghampiri namja yang dipanggilnya
luhan itu.
“Tao! Time control!”
teriak seseorang yang memiliki tubuh paling tinggi diantara mereka, yang
dipanggil tao itu menganggukkan kepalanya dan segera menghentikan waktu untuk
sesaat.
“Lay, bagaimana
keadaannya?” tanya namja tinggi tadi.
“dia mengalamai banyak
pendarahan, Kris.”
Namja yang diketahui
bernama kris itu memijit pelipisnya, kemudian ia mengedarkan pandangannya ke
sekeliling dan ia berhenti ketika melihat namja putih albino di belakangnya.
“sehun, kemarilah.”
Panggilnya.
Namja yang dipanggil
sehun itu segera menghampirinya dan menatap sosok yang terbaring didepannya
dengan mata yang berkaca-kaca.
“H-Hyung bagaimana
keadaan Luhan hyung?” tanyanya penuh harap pada lay yang sedang berusaha
menghentikan pendarahan luhan.
“Sehun! Dengarkan
hyung!” perintah kris membuat sehun membalikan badannya menghadap kris.
“bawa luhan pergi dari
sini.” Ucap kris.
Mendengar itu, sehun
langsung menggelengkan kepalanya.
“aku tidak bisa
membiarkan kalian disini, hyung. Jika kita mati, maka kita harus mati bersama!”
teriak sehun.
‘Plaakkk..’ kris menamparnya
keras hingga sehun tidak bisa mengeluarkan suaranya.
“Kris!” pekik suho.
Kris tidak menghiraukan
panggilan itu, ia segera memegang kedua bahu sehun agar menghadap kearahnya.
“Sehun! Kau itu susah
diatur! Sekali ini saja ikuti perintah hyung! Kita tidak akan mati sekarang
jika kau membawa luhan pergi. Kau mau luhan mati disini, HAH?” bentak kris.
Sehun menggelengkan
kepalanya.
“Hyung! Cepat! Mereka
semakin susah dikendalikan!” teriak tao yang sudah sekuat tenaga menahan para
musuh.
“Sehun, dengarkan
hyung! Bawa luhan keluar dari sini. Hiduplah dengan baik diluar sana.
Bersikaplah normal dan jangan menunjukan kekuatanmu pada orang luar. Kita akan
bertemu lagi.” Ucap kris.
“Hyung aku sudah tidak
kuat!” teriak tao dan, keadaan kembali kacau. Sehun masih diam ditempat, sampai
akhirnya suara petir Chen menyadarkannya. Kris benar, mereka harus hidup.
Dengan cepat ia jongkok
dan mengangkat tubuh luhan, sebelum pergi ia sempat menoleh kebelakang dan
melihat kris mengacungkan jempol padanya.
“aku janji kita akan
bersama lagi.” Ucapnya lirih dan segera berlari secepat anginnya.
Sehun sudah berlari
sampai hutan perbatasan, ketika ia merasa sekeliling sudah aman, iapun
memperlambat larinya dan sampailah ia di ladang yang sangat luas. Sekarang ia
benar-benar sangat lelah, iapun menurunkan luhan perlahan dan setelah itu ia
ambruk disamping luhan.
Kulit sehun memerah
karena teriknya matahari, ia mencoba untuk menormalkan nafas dan detak
jantungnya setelah berlari tadi. Iapun menoleh kesamping dan melihat luhan yang
ternyata sudah membuka matanya dan menatap kosong kearah langit.
“kita penghianat,
sehun.” Ucapnya.
“tidak, Kris hyung yang
meminta.” Bantah sehun.
Luhan segera
membalikkan badannya membelakangi sehun.
“semoga kita bisa hidup
di dunia ini.” Harapnya sambil menutup mata, mencoba untuk melupakan semua yang
telah terjadi, ia berharap ini semua hanya mimpi.
“kalian sedang apa
disini?” tanya sebuah suara, saat luhan membuka matanya. Itu seorang nenek yang
kesusahan membawa ember yang berisi air. Tapi luhan tidak bisa bangun, luka
diperutnya masih sangat sakit. Untung saja sehun disampingnya segera bangun dan
menjawab pertanyaan nenek itu, tidak seperti biasanya, sehun ramah’ pikir
luhan.
“kami tersesat dan
hyungku luka.” Jawab sehun sambil menoleh luhan sekilas.
Nenek itu segera
meletakkan ember yang dibawanya dan menghampiri mereka berdua.
“kenapa bisa luka
seperti ini?” tanya nenek itu lagi.
“Emm-i-itu tadi ada
naga melukainya.” Jawab sehun terbata, ia bingung harus menjawab apa, jika
tidak salah, kris pernah bilang naga juga ada di dunia luar.
Nenek itu mengerutkan
keningnya, “naga? Maksudmu apa, nak? Naga sudah lama musnah.”
“Oh, maksudku-“ sehun
menoleh kearah luhan karena ia tidak bisa menjawab.
“tadi ada seekor
serigala menyerangku halmeonni.” Ucap luhan menyambung perkataan sehun.
“Ha~~ jadi kalian masuk
ke hutan sana? Ayo cepat ikut halmeoni, kita obati lukamu.” Ucap nenek itu.
Sehun segera membantu
luhan untuk bangun.
“hyung bisa jalan,
kan?” tanya sehun dan mendapat anggukan dari luhan.
“ayo, ini rumah
halmeoni.” Ucap nenek itu setelah sampai disebuah rumah yang terbuat dari
bahan-bahan yang alam sediakan.
“rumah?” tanya sehun,
luhan segera menyikut perutnya.
“ya, halmeoni hanya
memiliki rumah ini.”
“bukan begitu halmeoni,
maksud dongsaengku halmeoni tinggal sendiri di rumah ini?” tanya luhan
mengulang perkataan sehun yang terkesan menghina, padahal sehun tidak bermaksud
menghina. Ia memang tidak tahu apa itu rumah. Berhubungan luhan dikaruniai
kekuatan telekinesis dan tentu ia bisa membaca pikiran orang lain, jadi ia
mengerti perasaan nenek didepannya ini.
“ya, halmeoni sendiri.
Tidak ada siapapun disini. Nah, ayo duduk dulu, halmeoni akan membuatkan obat
untuk lukamu.” Ucap nenek itu.
Sehunpun segera
membantu luhan duduk di sebuah papan kayu.
“sehun kau jangan
menanyakan hal yang macam-macam!” bisik luhan.
“tapi hyung, aku
benar-benar tidak mengerti.”
“diam saja dan tanyakan
padaku. Kau itu bodoh atau apa sih! Ini bukan dunia kita.”
“baiklah, hyung. Aku
mengerti.” Sahut sehun dengan wajah menyedihkannya yang membuat luhan merasa
bersalah.
“jangan cemberut
seperti itu, hyung tidak bermaksud seperti itu.” Ucap luhan pada akhirnya dan
tidak lama setelah itu, nenek tadipun datang kembali.
“ini, obatilah hyungmu.
Halmeoni harus pergi untuk mencari makan.”
“halmeoni!” panggil
luhan.
“ada apa?”
“bolehkah kami tinggal
sementara dengan halmeoni? Rumah kami yang dulu rusak.”
“tentu saja. halmeoni
merasa senang.” Ucap nenek itu dan segera pergi.
Kini hari berganti sore
dan nenek itu baru kembali kerumahnya. Ia melihat 2 orang namja yang tertidur
di depan rumahnya. Sungguh menyedihkan, mereka terlihat seperti anak buangan
padahal wajah mereka tampan. Yang satu tidur sambil duduk bersandar pada
dinding (Sehun) dan yang satu tidur dengan kepalanya berada di paha sehun
(Luhan).
“ kalian tidur disini.”
gumam nenek itu dan segera membangunkan kedua namja dihadapannya.
“kalian pasti lapar,
ayo makan ini.” Ucap sang nenek dengan menyodorkan beberapa buah-buahan pada
sehun dan luhan.
Luhan segera bangun dan
duduk.
“terimakasih,
halmeoni.” Ucapnya.
“kalian akan lama
disini?” tanya halmeoni.
“kami tidak tahu.”
Jawab sehun.
“kalian masih sekolah
atau tidak?”
“ha?” tanya sehun tidak
mengerti, ia tidak tahu apa itu sekolah.
“tidak, halmeoni. Kami
tidak sekolah. Orangtua kami sudah meninggal ketika kami masih anak-anak jadi
tidak ada yang membiayai kami.” Jawab luhan, padahal dirinya sendiri tidak tahu
siapa orang tuanya. Yang ia tahu, ia memiliki 1 hyung dan 10 namdongsaeng.
“Oh~~ bagaimana kalau
besok kita ke kota? Disana kalian bisa melihat anak-anak yang sekolah.”
“tentu, kami akan
bangun pagi dan pergi bersama halmeoni ke kota.”
Sehun hanya
mengangguk-angguk walaupun ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Keesokkan harinya
mereka bertigapun menelusuri jalanan untuk ke kota, ya maksud nenek ini adalah
pasar dan semacamnya yang dikunjungi banyak orang.
“Hyung, mereka melihati
kita.” Bisik sehun.
“abaikan saja.” balas
luhan.
Bagaimana tidak
dilihati, sehun dan luhan sekarang mengenakan jubah hitam. Semua orangpun pasti
berpikiran negatif, mungkin saja kan mereka penjahat.
“Luhan, Sehun!” panggil
halmeoni.
“Ya?” tanya luhan yang
kemudian menghampiri halmeoni, diikuti sehun.
“ini coba pakai pakaian
ini.” Ucap halmeoni.
“Ini untuk kami?” tanya
luhan.
“tentu, kalian tidak
mungkinkan terus memakai jubah seperti itu.”
“terimakasih halmeoni.”
Setelah memilih pakaian
itu, merekapun melanjutkan perjalanan untuk melihat sekolah.
“Kalian mau sekolah?”
tanya halmeoni, luhan segera menggelengkan kepalanya.
“Aku ingin membantu
halmeoni saja dirumah.” Jawabnya.
“bagaimana denganmu,
Sehun?” tanya halmeoni lagi.
“aku penasaran
bagaimana dalamnya, bolehkan, hyung?” tanya sehun meminta persetujuan luhan.
“tapi halmeoni,
sehunkan tidak sekolah dulunya?” tanya luhan.
“itu gampang, sehun
besok kau bisa datang kesini dan begitu seterusnya. Kalian pulang duluan biar
halmeoni urus yang lainnya.” Ucap halmeoni dan pergi.
Diperjalanan pulang,
sehun dan luhan hanya diam saja. mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Sehun-ah, kau benar
ingin sekolah?”
“tentu saja hyung.”
“tapikan, kita- Ah!”
luhan bingung untuk menjelaskannya pada sehun.
“kenapa? Kita juga
memiliki wujud yang sama dengan mereka. Kris hyung juga bilang agar kita
bersikap normal.”
“bukan itu, sehun! Tapi
dunia ini bukan dunia kita, kita tidak tahu apa yang ada disini.”
“maka dari itu aku akan
mencari tahunya.”
Luhan hanya
mengacak-acak rambutnya frustasi, sehun itu susah untuk diberikan nasihat.
“Hyung..” panggil
sehun.
“apa?”
“a-aku aku pi-pinjam
kekuatanmu, yah?” pinta sehun dengan wajah memelas.
“APA?!” bentak luhan.
“tapi hyung, kumohon..
aku kan harus jaga diri diluar sana, aku pasti tidak mengerti dengan yang
mereka pikirkan. Jadi aku pinjam telepatimu.. yahhh.. hyung kan baik.” Bujuk
sehun.
“tidak!”
“Hyung..”
“Tidak, Sehun!”
“Hyung, kumohonn..”
“JIKA KUBILANG TIDAK,
YA TIDAK! KAU ITU-“ bentak luhan terpotong, ia mencoba untuk menenangkan diri.
“kau tinggal diam saja
jika tidak mengerti.” Suruh luhan kemudian pergi.
Sehun hanya
mengerucutkan bibirnya sebal.
‘dasar pelit!’
gerutunya.
__Ditempat lain__
Kris tampak
mondar-mandir ditempatnya.
“Kris, luhan akan
baik-baik saja.” ucap xiumin.
“aku tahu luhan bisa
jaga diri, tapi bagaimana dengan bocah tengik itu? Dia susah diatur. Kuharap
mereka baik-baik saja disana.”
“hyung, kapan mereka kembali?”
tanya tao.
“aku belum bisa
memastikannya.” Jawab kris.
“tapikan sekarang
disini sudah aman hyung.” Ujar chanyeol.
“hanya sekarang,
bagaimana besok?” tanya kris dingin.
Chanyeol hanya diam, ia
tidak bisa menjawab.
Sedangkan itu, sang
nenek tampak tergopoh-gopoh berjalan menuju ruangan kepala sekolah.
“Mr.Jung! Mr. Jung!”
panggilnya.
“ada apa?” tanya namja
paruh baya yang memiliki raut wajah menakutkan.
“aku menemukan mereka!”
“mereka?”
“Sehun dan Luhan!”
“Jangan bercanda!”
“aku tidak bercanda.”
“lau, dimana mereka?”
“mereka dirumahku. Jika
kau tidak percaya itu benar-benar mereka, besok sehun akan sekolah kesini dan
kau bisa melihatnya sendiri.”
“lalu, bagaimana dengan
yang lain?”
“kemarin mereka hanya
datang berdua dengan luhan yang teluka diperutnya.”
“Ohh, aku dengar juga
dari yang mulia memang benar luhan luka diperut, tolong jaga dulu mereka sampai
aku bisa memastikan mereka telah siap untuk dimusnahkan.”
“tentu.” Ucap sang
nenek.
Dan akhirnya merekapun
tertawa bersama, sepertinya nenek itu tidak baik dengan tulus pada sehun dan
luhan.
__to be continue__
