Senin, 20 April 2015

WE ARE ONE

Keadaan yang teramat menakutkan. Api berkobar dimana-mana, petir menyambar setiap saat ditambah dengan gelombang air yang mengejar. Terlihat juga angin yang begitu kencang menyapu mereka yang tengah berusaha melarikan diri.
“Jangan Mundur! SERANG MEREKA!!” teriakkan penuh amarah dilontarkan oleh seorang Pria yang mengenakan baju serba hitam ditambah dengan pedang dikedua belah sisi.
Ia segera meluncurkan alat-alat tajam yang keluar dari dalam jemarinya.
‘AKh!’ jerit salah seorang yang terkena alat itu, darah segar mengalir dari perutnya.
“LUHAN!” teriak panik namja berlesung pipit, ia segera berlari menghampiri namja yang dipanggilnya luhan itu.
“Tao! Time control!” teriak seseorang yang memiliki tubuh paling tinggi diantara mereka, yang dipanggil tao itu menganggukkan kepalanya dan segera menghentikan waktu untuk sesaat.
“Lay, bagaimana keadaannya?” tanya namja tinggi tadi.
“dia mengalamai banyak pendarahan, Kris.”
Namja yang diketahui bernama kris itu memijit pelipisnya, kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan ia berhenti ketika melihat namja putih albino di belakangnya.
“sehun, kemarilah.” Panggilnya.
Namja yang dipanggil sehun itu segera menghampirinya dan menatap sosok yang terbaring didepannya dengan mata yang berkaca-kaca.
“H-Hyung bagaimana keadaan Luhan hyung?” tanyanya penuh harap pada lay yang sedang berusaha menghentikan pendarahan luhan.
“Sehun! Dengarkan hyung!” perintah kris membuat sehun membalikan badannya menghadap kris.
“bawa luhan pergi dari sini.” Ucap kris.
Mendengar itu, sehun langsung menggelengkan kepalanya.
“aku tidak bisa membiarkan kalian disini, hyung. Jika kita mati, maka kita harus mati bersama!” teriak sehun.
‘Plaakkk..’ kris menamparnya keras hingga sehun tidak bisa mengeluarkan suaranya.
“Kris!” pekik suho.
Kris tidak menghiraukan panggilan itu, ia segera memegang kedua bahu sehun agar menghadap kearahnya.
“Sehun! Kau itu susah diatur! Sekali ini saja ikuti perintah hyung! Kita tidak akan mati sekarang jika kau membawa luhan pergi. Kau mau luhan mati disini, HAH?” bentak kris.
Sehun menggelengkan kepalanya.
“Hyung! Cepat! Mereka semakin susah dikendalikan!” teriak tao yang sudah sekuat tenaga menahan para musuh.
“Sehun, dengarkan hyung! Bawa luhan keluar dari sini. Hiduplah dengan baik diluar sana. Bersikaplah normal dan jangan menunjukan kekuatanmu pada orang luar. Kita akan bertemu lagi.” Ucap kris.
“Hyung aku sudah tidak kuat!” teriak tao dan, keadaan kembali kacau. Sehun masih diam ditempat, sampai akhirnya suara petir Chen menyadarkannya. Kris benar, mereka harus hidup.
Dengan cepat ia jongkok dan mengangkat tubuh luhan, sebelum pergi ia sempat menoleh kebelakang dan melihat kris mengacungkan jempol padanya.
“aku janji kita akan bersama lagi.” Ucapnya lirih dan segera berlari secepat anginnya.
Sehun sudah berlari sampai hutan perbatasan, ketika ia merasa sekeliling sudah aman, iapun memperlambat larinya dan sampailah ia di ladang yang sangat luas. Sekarang ia benar-benar sangat lelah, iapun menurunkan luhan perlahan dan setelah itu ia ambruk disamping luhan.
Kulit sehun memerah karena teriknya matahari, ia mencoba untuk menormalkan nafas dan detak jantungnya setelah berlari tadi. Iapun menoleh kesamping dan melihat luhan yang ternyata sudah membuka matanya dan menatap kosong kearah langit.
“kita penghianat, sehun.” Ucapnya.
“tidak, Kris hyung yang meminta.” Bantah sehun.
Luhan segera membalikkan badannya membelakangi sehun.
“semoga kita bisa hidup di dunia ini.” Harapnya sambil menutup mata, mencoba untuk melupakan semua yang telah terjadi, ia berharap ini semua hanya mimpi.
“kalian sedang apa disini?” tanya sebuah suara, saat luhan membuka matanya. Itu seorang nenek yang kesusahan membawa ember yang berisi air. Tapi luhan tidak bisa bangun, luka diperutnya masih sangat sakit. Untung saja sehun disampingnya segera bangun dan menjawab pertanyaan nenek itu, tidak seperti biasanya, sehun ramah’ pikir luhan.
“kami tersesat dan hyungku luka.” Jawab sehun sambil menoleh luhan sekilas.
Nenek itu segera meletakkan ember yang dibawanya dan menghampiri mereka berdua.
“kenapa bisa luka seperti ini?” tanya nenek itu lagi.
“Emm-i-itu tadi ada naga melukainya.” Jawab sehun terbata, ia bingung harus menjawab apa, jika tidak salah, kris pernah bilang naga juga ada di dunia luar.
Nenek itu mengerutkan keningnya, “naga? Maksudmu apa, nak? Naga sudah lama musnah.”
“Oh, maksudku-“ sehun menoleh kearah luhan karena ia tidak bisa menjawab.
“tadi ada seekor serigala menyerangku halmeonni.” Ucap luhan menyambung perkataan sehun.
“Ha~~ jadi kalian masuk ke hutan sana? Ayo cepat ikut halmeoni, kita obati lukamu.” Ucap nenek itu.
Sehun segera membantu luhan untuk bangun.
“hyung bisa jalan, kan?” tanya sehun dan mendapat anggukan dari luhan.
“ayo, ini rumah halmeoni.” Ucap nenek itu setelah sampai disebuah rumah yang terbuat dari bahan-bahan yang alam sediakan.
“rumah?” tanya sehun, luhan segera menyikut perutnya.
“ya, halmeoni hanya memiliki rumah ini.”
“bukan begitu halmeoni, maksud dongsaengku halmeoni tinggal sendiri di rumah ini?” tanya luhan mengulang perkataan sehun yang terkesan menghina, padahal sehun tidak bermaksud menghina. Ia memang tidak tahu apa itu rumah. Berhubungan luhan dikaruniai kekuatan telekinesis dan tentu ia bisa membaca pikiran orang lain, jadi ia mengerti perasaan nenek didepannya ini.
“ya, halmeoni sendiri. Tidak ada siapapun disini. Nah, ayo duduk dulu, halmeoni akan membuatkan obat untuk lukamu.” Ucap nenek itu.
Sehunpun segera membantu luhan duduk di sebuah papan kayu.
“sehun kau jangan menanyakan hal yang macam-macam!” bisik luhan.
“tapi hyung, aku benar-benar tidak mengerti.”
“diam saja dan tanyakan padaku. Kau itu bodoh atau apa sih! Ini bukan dunia kita.”
“baiklah, hyung. Aku mengerti.” Sahut sehun dengan wajah menyedihkannya yang membuat luhan merasa bersalah.
“jangan cemberut seperti itu, hyung tidak bermaksud seperti itu.” Ucap luhan pada akhirnya dan tidak lama setelah itu, nenek tadipun datang kembali.
“ini, obatilah hyungmu. Halmeoni harus pergi untuk mencari makan.”
“halmeoni!” panggil luhan.
“ada apa?”
“bolehkah kami tinggal sementara dengan halmeoni? Rumah kami yang dulu rusak.”
“tentu saja. halmeoni merasa senang.” Ucap nenek itu dan segera pergi.
Kini hari berganti sore dan nenek itu baru kembali kerumahnya. Ia melihat 2 orang namja yang tertidur di depan rumahnya. Sungguh menyedihkan, mereka terlihat seperti anak buangan padahal wajah mereka tampan. Yang satu tidur sambil duduk bersandar pada dinding (Sehun) dan yang satu tidur dengan kepalanya berada di paha sehun (Luhan).
“ kalian tidur disini.” gumam nenek itu dan segera membangunkan kedua namja dihadapannya.
“kalian pasti lapar, ayo makan ini.” Ucap sang nenek dengan menyodorkan beberapa buah-buahan pada sehun dan luhan.
Luhan segera bangun dan duduk.
“terimakasih, halmeoni.” Ucapnya.
“kalian akan lama disini?” tanya halmeoni.
“kami tidak tahu.” Jawab sehun.
“kalian masih sekolah atau tidak?”
“ha?” tanya sehun tidak mengerti, ia tidak tahu apa itu sekolah.
“tidak, halmeoni. Kami tidak sekolah. Orangtua kami sudah meninggal ketika kami masih anak-anak jadi tidak ada yang membiayai kami.” Jawab luhan, padahal dirinya sendiri tidak tahu siapa orang tuanya. Yang ia tahu, ia memiliki 1 hyung dan 10 namdongsaeng.
“Oh~~ bagaimana kalau besok kita ke kota? Disana kalian bisa melihat anak-anak yang sekolah.”
“tentu, kami akan bangun pagi dan pergi bersama halmeoni ke kota.”
Sehun hanya mengangguk-angguk walaupun ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Keesokkan harinya mereka bertigapun menelusuri jalanan untuk ke kota, ya maksud nenek ini adalah pasar dan semacamnya yang dikunjungi banyak orang.
“Hyung, mereka melihati kita.” Bisik sehun.
“abaikan saja.” balas luhan.
Bagaimana tidak dilihati, sehun dan luhan sekarang mengenakan jubah hitam. Semua orangpun pasti berpikiran negatif, mungkin saja kan mereka penjahat.
“Luhan, Sehun!” panggil halmeoni.
“Ya?” tanya luhan yang kemudian menghampiri halmeoni, diikuti sehun.
“ini coba pakai pakaian ini.” Ucap halmeoni.
“Ini untuk kami?” tanya luhan.
“tentu, kalian tidak mungkinkan terus memakai jubah seperti itu.”
“terimakasih halmeoni.”
Setelah memilih pakaian itu, merekapun melanjutkan perjalanan untuk melihat sekolah.
“Kalian mau sekolah?” tanya halmeoni, luhan segera menggelengkan kepalanya.
“Aku ingin membantu halmeoni saja dirumah.” Jawabnya.
“bagaimana denganmu, Sehun?” tanya halmeoni lagi.
“aku penasaran bagaimana dalamnya, bolehkan, hyung?” tanya sehun meminta persetujuan luhan.
“tapi halmeoni, sehunkan tidak sekolah dulunya?” tanya luhan.
“itu gampang, sehun besok kau bisa datang kesini dan begitu seterusnya. Kalian pulang duluan biar halmeoni urus yang lainnya.” Ucap halmeoni dan pergi.
Diperjalanan pulang, sehun dan luhan hanya diam saja. mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Sehun-ah, kau benar ingin sekolah?”
“tentu saja hyung.”
“tapikan, kita- Ah!” luhan bingung untuk menjelaskannya pada sehun.
“kenapa? Kita juga memiliki wujud yang sama dengan mereka. Kris hyung juga bilang agar kita bersikap normal.”
“bukan itu, sehun! Tapi dunia ini bukan dunia kita, kita tidak tahu apa yang ada disini.”
“maka dari itu aku akan mencari tahunya.”
Luhan hanya mengacak-acak rambutnya frustasi, sehun itu susah untuk diberikan nasihat.
“Hyung..” panggil sehun.
“apa?”
“a-aku aku pi-pinjam kekuatanmu, yah?” pinta sehun dengan wajah memelas.
“APA?!” bentak luhan.
“tapi hyung, kumohon.. aku kan harus jaga diri diluar sana, aku pasti tidak mengerti dengan yang mereka pikirkan. Jadi aku pinjam telepatimu.. yahhh.. hyung kan baik.” Bujuk sehun.
“tidak!”
“Hyung..”
“Tidak, Sehun!”
“Hyung, kumohonn..”
“JIKA KUBILANG TIDAK, YA TIDAK! KAU ITU-“ bentak luhan terpotong, ia mencoba untuk menenangkan diri.
“kau tinggal diam saja jika tidak mengerti.” Suruh luhan kemudian pergi.
Sehun hanya mengerucutkan bibirnya sebal.
‘dasar pelit!’ gerutunya.
__Ditempat lain__
Kris tampak mondar-mandir ditempatnya.
“Kris, luhan akan baik-baik saja.” ucap xiumin.
“aku tahu luhan bisa jaga diri, tapi bagaimana dengan bocah tengik itu? Dia susah diatur. Kuharap mereka baik-baik saja disana.”
“hyung, kapan mereka kembali?” tanya tao.
“aku belum bisa memastikannya.” Jawab kris.
“tapikan sekarang disini sudah aman hyung.” Ujar chanyeol.
“hanya sekarang, bagaimana besok?” tanya kris dingin.
Chanyeol hanya diam, ia tidak bisa menjawab.
Sedangkan itu, sang nenek tampak tergopoh-gopoh berjalan menuju ruangan kepala sekolah.
“Mr.Jung! Mr. Jung!” panggilnya.
“ada apa?” tanya namja paruh baya yang memiliki raut wajah menakutkan.
“aku menemukan mereka!”
“mereka?”
“Sehun dan Luhan!”
“Jangan bercanda!”
“aku tidak bercanda.”
“lau, dimana mereka?”
“mereka dirumahku. Jika kau tidak percaya itu benar-benar mereka, besok sehun akan sekolah kesini dan kau bisa melihatnya sendiri.”
“lalu, bagaimana dengan yang lain?”
“kemarin mereka hanya datang berdua dengan luhan yang teluka diperutnya.”
“Ohh, aku dengar juga dari yang mulia memang benar luhan luka diperut, tolong jaga dulu mereka sampai aku bisa memastikan mereka telah siap untuk dimusnahkan.”
“tentu.” Ucap sang nenek.
Dan akhirnya merekapun tertawa bersama, sepertinya nenek itu tidak baik dengan tulus pada sehun dan luhan.
__to be continue__


IT HAS TO BE YOU

IT HAS TO BE YOU
Cast :
Ø  OH SEHUN
Ø  CHOI EUNJI
Ø  CHOI EUNBI
EPISODE 1 (Meet You Again)
Angin musim semi bertiup dengan begitu tenang seiring berjalannya seorang namja tinggi yang berparas tampan dengan kulit yang begitu putih. Namja itu tampak menggunakan topi dengan masker menutupi hampir seluruh wajahnya. Ditambah dengan syal yang melilit dilehernya. Orang – orang yang berpapasan dengannya menatapnya dengan begitu heran, ini bukan musim dingin tapi pakaiannya itu… hampir seperti teroris.
Setelah lama berjalan, sampailah ia disebuah pemakaman dan dengan segera ia masuk kesana kemudian melepaskan kacamata, masker, kemudian syalnya dan menyimpannya ditempat penitipan barang. Penjaga disana yang notabennya adalah seorang yeoja, sempat terkejut melihatnya. Pantas saja pakaiannya seperti itu, ternyata dia adalah OH SEHUN, maknae dari boyband ternama, EXO. Sepertinya dia sedang berusaha untuk menyamar.
“Ehhmm.. Maaf, bisakah saya mengambil Card untuk penitipan ini?” Tanya sehun dengan sedikit dehemannya agar yeoja didepannya ini tersadar dari lamunannya.
“O-Oh, maaf. Ini silahkan.” Balas yeoja itu sambil memberikan sehun sebuah card.
“terimakasih.” Ucap sehun disertai senyumannya yang membuat yeoja itu blushing.
Sehun berjalan menuju sebuah makam, ia kemudian meletakkan sebuket bunga diatasnya dan jongkok di samping makam itu.
“Selamat pagi YoungJi-ah, maaf aku baru datang. Kau tahu? Kegiatanku semakin padat akhir-akhir ini. Bukannya aku tidak peduli padamu, hanya saja aku ingin menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab pada pekerjaanku. Minggu lalu kau berulang tahun, ya? Maaf aku tidak bisa datang. Oh ya, sekarang aku sedang sibuk untuk persiapan comeback. Kau harus mendo’akanku supaya comebacknya berjalan lancar ya. Bagaimana keadaanmu disana? Pasti bahagia, bukan?”
“Hmm.. aku tahu kau bahagia. Aku rindu padamu, kau juga merindukanku, kan? Tentu saja. Saranghaeyo Youngji-ah.”
Beberapa saat suasana menjadi hening, sampai akhirnya sehun menghembuskan nafasnya setelah melihat pada jam tangannya.
“Ini sudah siang, nanti pukul 10 aku harus ke gedung SM. Jadi, sampai jumpa. Aku janji akan datang lagi. Jaga dirimu baik-baik ya.” Setelah mengucapkan itu, sehun segera pergi dari sana untuk pulang. Tidak lupa ia memakai barang-barang yang menurutnya merepotkan itu.
Saat ia baru memasuki mobilnya, hpnya sudah berbunyi dan itu telepon dari managernya.
“Hallo?” sapa sehun.
“YA! OH SEHUN! KAU DARIMANA SAJA, HAH? DARITADI TELPONKU TIDAK DIANGKAT! MINTA DILAPORKAN PADA_”
“Maaf hyung, tidak akan kuulangi.” Potong sehun.
“oh, tidak seperti biasanya. Kau kenapa?”
“tidak, aku hanya sedikit pusing.” Ucap sehun berbohong.
“ohh, pantas saja. Yasudah, istirahatkan dulu dirimu sebelmu berangkat kesini. Hari ini kita akan latihan dengan keras.”
“Iya hyung.”
“dan satu lagi, kau jangan sampai lupa lirik.”
“Iya aku tahu.”
“Baiklah, pukul 10 jangan lupa. Kututup teleponnya.”
Sehun lagi lagi menghembuskan nafasnya, ia berdo’a supaya tidak cepat tua akibat dari pekerjaan seperti ini. Setelah itu, ia perlahan melajukan mobilnya. Ia bersukur jalanan begitu sepi dan memperlancar perjalanannya, namun tiba-tiba ia melihat seorang yeoja di trotoar yang membawa koper besar. Dengan seenaknya yeoja itu menghentikan mobilnya dan mengetuk kaca mobilnya. Dengan malas sehun menurunkan sedikit kacanya, ia berpikir jika yeoja ini adalah sasaeng fans.
“Permisi.” Ucap yeoja itu.
“ya, apa?”
“apa kau tahu alamat ini?” tanyanya sambil memperlihatkan sebuah alamat.
“tidak.” Jawab sehun tanpa melihat kearah kertas.
“tolong lihat dulu, daritadi jalanan ini sepi, tidak ada kendaraan ataupun orang yang lewat. Kupikir kau bisa menolongku.”
“Heh, dengar ya. Ak_” ucapan sehun terpotong ketika ia melihat wajah yeoja itu.
Lama mereka bertatapan sampai akhirnya sehun tersadar dan berdehem untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
“Masuklah, aku akan membantumu mencarikan alamat itu.” Ucap sehun.
“Benarkah? Terimakasih.”
Yeoja itu segera kembali ke trotoar dan menarik kopernya.
“biarku bawakan kopermu.” Ujar sehun dan menarik koper itu dari tangan yeoja tadi.
Setelah ia memasukan ke bagasi mobil, ia segera kembali dan melihat yeoja itu masih diluar.
“kenapa kau tidak masuk?” Tanya sehun, ‘jangan bilang kau tidak tau cara membuka pintu mobil’ batin sehun.
“aku duduk dimana?” Tanya yeoja itu.
“dibelakang.” Jawab sehun dan yeoja itu hanya menurut, namun baru saja  ia berniat membuka pintunya, sehun sudah menggebrak pintu yang  akan dibukanya.
“tentu saja didepan, bodoh! Kau kira aku supir taksi?!” bentaknya dan yeoja itu hanya menunduk kemudian menjauh.
“Ba-baiklah.” Ucapnya terbata dan segera memutari mobil kemudian masuk dan duduk disebelah kursi pengemudi.
Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian masuk kedalamnya.
“Jadi_” ucapan sehun terpotong.
“Jadi?”
“alamatnya mana?”
“Oh, Ini.”
“alamat apa ini?”
“aku juga tidak tahu, makanya aku bertanya.”
“baiklah, sebagai namja yang baik, aku akan mencoba mencarinya.”
Setelah itu, sehunpun segera melajukan mobilnya.
“Namamu siapa?” Tanya sehun.
“Choi Eun Ji.”
Setelah mendengar nama itu, sehun segera menoleh, kenapa semuanya hampir sama? EunJi,YoungJi?
“kenapa? Ada yang salah?” Tanya yeoja itu yang ternyata bernama eunji.
“ah, tidak. Namaku_”
“Oh Sehun.” Potong eunji, dan sehun hanya menoleh kemudian terkekeh.
“aku tidak mengira bahwa aku seterkenal itu.”
“tentu saja kau terkenal!”
Sehun tiba-tiba memberhentikan mobilnya.
“turun dari mobilku.” Ucapnya dingin.
“Ne?”
“turun dari mobilku! Apa kau tidak mendengar? Kau itu sasaeng, kan? Percuma, tidak ada barang yang menarik dimobilku untuk dijual.”
“kau bicara apa?”
Sehun segera turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil sebelahnya kemudian menarik tangan eunji untuk keluar dari sana.
“aku tidak punya waktu untuk sasaeng, dan untuk disebarkan, EXO sedang menjalani proses syuting! Kopermu dibelakang, jangan mengikutiku lagi!” ucapnya dan segera masuk kemobilnya lagi kemudian melajukannya dengan kecepatan penuh.
“YA! DASAR ARTIS SOMBONG! SIAPA JUGA YANG SASAENG! KAU GILA! SYUTINGMU TIDAK AKAN LANCAR! AKU AKAN MEMBUAT ARTIKEL TENTANG KELAKUAN BURUKMU!” teriak eunji.
“Cih, tidak ada gunanya! Jika aku benar sasaeng, aku akan membuat artikel itu sungguhan, tapi saying, aku itu fangirlnya. Dasar idola tidak tahu diri! Seenaknya saja men_”
‘Tidd Tidd’ suara klakson mobil menghentikan omelan eunji dan ia segera menoleh kebelakang.
“Nona, minggirlah dari sana!” teriak pengemudi itu.
Eunji segera menarik kopernya dan kembali berjalan menelusuri trotoar. Disaat genting seperti ini handphonenya malah mati.
Diperjalanan pulang, sehun memikirkan siapa itu eunji. Apa mungkin dia reinkarnasi dari youngji? Tapi_
“ah! Ini gila!” gerutunya dan semakin menambah kecepatan laju mobilnya.

Episode 2 (Your Bad Day, My Good Day)
Sehun memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya kemudian ia segera keluar dari sana.
“eomma, aku berangkat sekarang.” Ucapnya setelah masuk kedalam rumahnya.
“berangkat sekarang? Kau belum makan.”
“aku bisa makan diluar.”
“Yasudah, berhati-hatilah.” Ucap eommanya sambil membantu sehun memakai jaket.
“nanti kau pulang dulu kesini, appamu pulang malam ini.” Ucap eommanya memperingati.
“Jika aku tidak lelah mengemudi.”
“kau bisa naik taksi, sehun.”
Sehun segera membalikan badannya menghadap sang eomma dan memegang kedua bahu eommanya.
“Eomma, jika appa benar-benar ingin menemuiku, dia bisa mengunjungiku. Aku juga sedang banyak latihan untuk persiapan comeback. Tolong jangan terlalu memaksaku untuk melakukan ini itu. Aku sudah besar.” Sehun mengambil jeda sejenak.
“bukankah eomma juga sibuk dengan pekerjaan eomma yang sangat penting itu? Tidak usah mengkhawatirkanku, aku bisa menjaga diri.” Sambung sehun kemudian ia segera mengambil kunci mobilnya dan pergi.
Eommanya hanya tertegun mendengar pernyataan sehun. Ternyata benar, anak bungsunya itu sudah besar. Dia hanya tersenyum tipis dan melangkahkan kakinya ke meja makan. Padahal, ia sudah repot-repot bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan sebanyak ini hanya karena sehun ada di rumah, ia hanya ingin makan bersama anggota keluarganya. Setiap hari ia hanya makan sendiri. Sang suami sibuk mengelola perusahaan yang dikembangkan lagi ke Negara tetangga, Jepang. Anak pertamanya kini tinggal di China untuk mengelola perusahaan appanya disana, dan yang terakhir, Sehun. Dia sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin ini salahnya sendiri, dulu ketika sehun meminta ia untuk menemaninya ketika akan melakukan konser besar, ia selalu tidak bisa dan mengatakan lain kali pada sehun sampai ke pertemuan orang tuapun ia tidak bisa datang. Dan setelah itu, sehun tidak pernah memintanya untuk melakukan apapun. Dia semakin jarang pulang, bahkan jika akan konser keluar negeripun ia jarang mengabarinya. Hubungan Ibu dengan anak itu semakin hari semakin renggang. Dan sepertinya sehun menjadi tertutup pada siapapun. Terbalik dengan sifat aslinya.
“harus kuapakan makanan ini?” tanyanya, ia kemudian memandang keluar jendela dan ia melihat EunBi, tetangganya sedang memberi makan hewan peliharaannya. Ia segera melangkahkan kakinya keluar rumah.
“Eunbi, kau tidak bekerja?” tanyanya.
“Oh, ahjuma. Tidak, hari ini dongsaengku akan kesini jadi aku memutuskan untuk tidak bekerja dan menunggunya saja.” jawab eunbi sambil berjalan menyebrangi jalan untuk menghampiri eomma sehun.
“oh, begitu ya. Ahjuma membuat makanan terlalu banyak, mungkin saja dongsaengmu nanti lapar.”
“tidak usah ahjuma, nanti aku bisa memasak untuknya.”
“Eunbi, kau itu. Masakan ahjuma juga enak, sayang kan jika harus dibuang. Ayo masuk.”
Eomma sehun menarik tangan eunbi, dan eunbi hanya menurutinya saja.
“ahjuma, kenapa masak sebanyak ini?” Tanya eunbi heran.
“tadi sehun pulang, ternyata dia harus segera pergi lagi, jadi tidak sempat memakan ini.”
“oh pantas saja. apa tidak apa-apa ini ku ambil?”
“tentu saja tidak. Ahjuma juga sekarang harus pergi untuk meeting. Jadi tidak bisa memakan ini.”
“Oohh, terimakasih ya ahjuma.”
“tentu. Oh ya, nanti jika dongsaengmu datang, ahjuma ingin bertemu.”
“ya, akan kusampaikan padanya nanti. Sampai jumpa ahjuma.”
Eunbipun segera pergi dan eomma sehun hanya menatap kepergiannya, seandainya saja ia memiliki anak seperti eunbi, sepertinya menyenangkan.
Sehun telah sampai digedung SM, ia segera masuk dan menuju lantai 5, dimana tempat latihan exo berada. Ketika ia masuk kesana, ruangannya masih kosong. Iapun memilih untuk duduk di lantai dan menyendarkan punggungnya ke dinding kemudian menutup matanya perlahan. Sebelum latihan, ia harus menenangkan dulu pikirannya agar nanti ia bisa konsen.
“Hey! Sehun! Kau datang pagi sekali.” Ucap seseorang dengan suara beratnya, sehun malas untuk membuka matanya apalagi meladeni perkataanya itu.
“pagi-pagi sudah galau hunna~” goda orang itu lagi.
“Diamlah Chanyeol!” bentak sehun.
“hahaha kau benar-benar galau ya~ cup cup sini hyung akan menghiburmu.”
“cih, malas sekali. Lebih baik aku latihan.”
Sehun segera bangkit dan mengabaikan chanyeol, ia memilih untuk mencoba beberapa kareografi baru.
“hey sehun! Kau sudah 1 jam menari begitu, istirahat dulu agar nanti kau tidak kelelahan saat berlatih dengan yang lain.” Ucap chanyeol.
__SKIP TIME__
Latihan berjalan dengan lancar dan kini sehun hanya duduk dipojokkan sambil mengelap keringatnya. Daritadi moodnya tidak membaik, iapun hanya diam melihat para hyungnya bermain dihadapannya. Tidak ada niat untuk bergabung dengan mereka, dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
“Hyungdeul, malam ini aku pulang ke rumah.” Ucapnya dan segera pergi membuat yang lain bingung. Tapi biarkanlah, toh sehun bukan anak kecil lagi.
Sebelum melajukan mobilnya, ia mengetikkan pesan untuk eommanya.
‘Eomma sekarang aku pulang dan ingin istirahat di rumah’ setelah mengetikkan itu, ia segera mengirimkannya dan melajukan mobilnya untuk pulang.
Setelah sampai dirumah, ia segera memasukkan mobilnya ke garasi dan sepertinya appanya belum datang.
“Sehun! Appa sebentar lagi tiba, sekarang dia di airport.” Ucap eommanya girang.
“Itu masih jauh, eomma.” Keluh sehun dan ia segera masuk diikuti eommanya.
“mandilah dan eomma akan menyiapkan makanan untuk nanti kita makan.” Ucap eommanya.
Baru saja sehun akan menolak, terdengar bel rumahnya berbunyi.
“biar aku yang membukanya.” Ucapnya dan berjalan kearah pintu.
“Siap-pa..” tanyanya yang berubah menjadi bisikkan.
‘BUGH!’ ia membanting pintu rumahnya dengan keras dan menarik tangan orang yang tadi menekan bel rumahnya menjauh dari rumahnya.
“Apa yang kau lakukan dirumahku, HA? Kau benar-benar penguntit ya?!” bentak sehun.
“I-Ini rumahmu? A-Aku..”
“cepat pergi dari sini sebelum ku panggil polisi.”
“HAH? Polisi? Kau gila ya! Aku itu kesini disuruh eonniku untuk bertemu dengan ahjuma pemilik rumah ini dan aku tidak berniat untuk bertemu denganmu. Dasar selebriti sombong!”
Dia segera melangkahkan kakinya menjauhi sehun dan berjalan ke pintu rumah sehun.
“YA! CHOI EUNJI!” teriak sehun yang membuat orang itu, tepatnya eunji segera diam ditempat. Tentu saja ia terkejut.
“Sehun, kenapa kau berteriak-teriak?” Tanya seseorang dari dalam rumahnya yang tak lain adalah eommanya.
“Eomma! Siapa dia?!” Tanya sehun sambil menunjuk eunji, eommanya mengarahkan pandangannya pada eunji.
“Eh?” gumam eommanya.
“Selamat malam ahjumma, aku Choi Eunji.”
“Choi Eunji? Oh, dongsaeng eunbi ya? Ayo masuk.”
“tidak perlu ahjumma, aku hanya ingin memberikan ini. Terimakasih untuk makannannya ya. Itu sangat enak.” Puji eunji.
“ah, biasa saja. ini apa?”
“itu makanan buatan eommaku, semoga ahjumma mau mencicipinya.”
Eunji kemudian menoleh kebelakang dan tersenyum pada sehun,
“dan semoga sehun juga mau mencicipinya.” Sambungnya.
“In Your dream.” Gumam sehun sambil melewati eunji.
“tentu saja eunji, ahjumma pasti memakannya. Ayo masuk dulu.”
“tidak usah ahjumma, ini sudah malam. Besok aku akan berkunjung lagi.” Ucap eunji dan membungkuk kemudian pergi.
Eunji masuk kedalam rumahnya dengan santai, namun setelah masuk, ia berlari kekamar eunbi dan membuka pintunya dengan keras.
“YA! Eonni!” bentaknya kemudian duduk dikasur eunbi.
“emm? Kenapa?” Tanya eunbi.
“kenapa eonni tidak bilang jika rumah ini berdekatan dengan sehun!”
“Ohh, aku sengaja, kenapa?”
“Issh! Eonni!”
“jika aku memberitahumu, setiap kau libur, kau pasti akan datang kesini terus kan? Atau kau ingin tinggal bersamaku? Iya, kan?”
“bukan begitu, jika eonni bilang kan, aku akan menyuruh eonni meminta tanda tangannya, hehe..”
“Cih.. cepatlah tidur sana.”
“dia lebih tampan dilihat langsung.” Gumam eunji dan merebahkan dirinya dikasur eunbi.
“kau itu bicara apa, hah? Cepat pergi sana!” usir eunbi sambil menarik-narik tangan eunji untuk pergi.
“iya, iya. Aku akan pergi, dasar!”

EPISODE 3 (She as You)
Keesokkan harinya, Eunji keluar dari rumahnya dan ia melihat anjing kecil di seberang jalan. Iapun menyebrang dan jongkok kemudian bermain dengan anjing itu.
“namamu siapa?” Tanya eunji.
‘gukk gukk’
“Ha? Namamu Sehun? Hahahaha..”
“Kau gila.” Ucap seseorang yang baru datang, dan saat eunji mendongak, itu sehun -_-
“Sehun-ssi.” Gumamnya.
“jangan sentuh anjingku, dia baru saja mandi.”
“Apa? Aku tidak menyentuhnya. Lagipula tanganku bersih, kau terlalu protective.”
“kau mengkritikku?”
“tidak, siapa bilang?”
“terserah.” Ucap sehun dan menuntun anjingnya untuk masuk kehalaman rumahnya.
“Sehun!” panggil eunji yang membuat sehun menoleh.
“usiamu itu berapa sih?”
“kenapa?”
“kau harus sopan.”
“Oh, aku lupa. Oppa.”
“ya, apa?”
“aku ingin jalan-jalan, apa kau mau ikut?”
“kau pikir aku siapa hah?”
“siapa yang mengajakmu! Aku mengajak anjingmu!”
Sehun mengerutkan keningnya melihat tingkah eunji.
“tapi jika tidak keberatan, kita bertiga saja keluar.”
“kau itu seperti yeoja yang sedang mengajak untuk kencan.”
“Ha?”
_Eunji POV_
Setelah mendengar perkataannya, aku merasa suhu tubuhku naik. Reflex aku memegang kedua pipiku yang terasa panas. Oh, apa ini? Aku Blushing? Hanya karena perkataan bodohnya? Ayo berfikir! Selamatkan harga dirimu Choi Eunji!
“memang aku mengajak kencan, kenapa? Aku mengajak anjingmu!” teriakku, tapi dia malah tertawa.
“pipimu merah. Kau benar-benar ingin kencan denganku, kan?”
“terserahlah! Aku ingin pulang saja. Moodku hari ini sudah rusak karena bertemu dengan makhluk sepertimu! Sebentar sebentar marah, berubah lagi jadi ramah dan sebentar lagi kau akan membantingku ke jalanan!” setelah mengatakan itu aku segera pergi.
Apa yang sudah kukatakan? Itu seperti aku telah mengenalnya sejak lama. Kenapa ini? Aku menggelengkan kepala dan segera masuk kedalam rumah. Setelah didalam, aku mengintip dari jendela dan sehun masih diseberang sana dengan wajah kusutnya. Kenapa dia? Sedetik kemudian dia melihat kearah jendela ini dan aku segera bersembunyi.
“EUNJI! MOODMU AKAN SELALU BURUK SELAMA KAU TINGGAL DISINI!” Teriaknya, ingin sekali ku pukul kepalanya. Enak saja mengancam orang sembarangan.
_Sehun POV_
Perkataannya barusan sama seperti perkataan youngji belasan tahun yang lalu. Mereka benar-benar sama. Kenapa ini? Aku melihat sekeliling dan menangkapnya sedang mengintip lewat jendela kearahku. Dasar, bocah!
“EUNJI! MOODMU AKAN SELALU BURUK SELAMA KAU TINGGAL DISINI!” teriakku, sepertinya ini akan seru. Tapi ternyata tidak ada balasan, dia sepertinya benar-benar takut. Tapi setelah itu..
‘Byuuurrrr… Byuuurrrr…’ oh, apa ini? Basah? Saat aku menoleh ke seberang, dia mengarahkan selang kearahku dan itu membuat wajah dan bajuku basah. Aku menutup mata, mencoba untuk menenangkan diriku sejenak.
“jangan so cool, jika kau ingin marah, marah saja! ayo keluarkan kata kata kasarmu!” teriaknya.
“aku tidak akan berkata kasar, detik detik selanjutnya aku akan memperlakukanmu dengan kasar. Kau mengerti?”
Aku melihat dia meneguk ludahnya dengan kasar, “SIAPA TAKUT, HA?” bentaknya dan dia kembali menyemprotkan air itu kewajahku. Kesabaranku habis! Aku melepaskan ikatan anjingku dari tangan kemudian berjalan kearahnya. Dia melepaskan selang itu dan hanya diam melihatku. Ku kira dia benar-benar takut, tapi ternyata..
‘Duaghh..’
“Awww..!” teriakku sambil memegang perut yang barusan ditendang olehnya.

“SIALAN KAU!” teriakku yang membuatnya lari terbirit-birit masuk kedalam rumahnya.



__TBC__