Senin, 20 April 2015

WE ARE ONE

Keadaan yang teramat menakutkan. Api berkobar dimana-mana, petir menyambar setiap saat ditambah dengan gelombang air yang mengejar. Terlihat juga angin yang begitu kencang menyapu mereka yang tengah berusaha melarikan diri.
“Jangan Mundur! SERANG MEREKA!!” teriakkan penuh amarah dilontarkan oleh seorang Pria yang mengenakan baju serba hitam ditambah dengan pedang dikedua belah sisi.
Ia segera meluncurkan alat-alat tajam yang keluar dari dalam jemarinya.
‘AKh!’ jerit salah seorang yang terkena alat itu, darah segar mengalir dari perutnya.
“LUHAN!” teriak panik namja berlesung pipit, ia segera berlari menghampiri namja yang dipanggilnya luhan itu.
“Tao! Time control!” teriak seseorang yang memiliki tubuh paling tinggi diantara mereka, yang dipanggil tao itu menganggukkan kepalanya dan segera menghentikan waktu untuk sesaat.
“Lay, bagaimana keadaannya?” tanya namja tinggi tadi.
“dia mengalamai banyak pendarahan, Kris.”
Namja yang diketahui bernama kris itu memijit pelipisnya, kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan ia berhenti ketika melihat namja putih albino di belakangnya.
“sehun, kemarilah.” Panggilnya.
Namja yang dipanggil sehun itu segera menghampirinya dan menatap sosok yang terbaring didepannya dengan mata yang berkaca-kaca.
“H-Hyung bagaimana keadaan Luhan hyung?” tanyanya penuh harap pada lay yang sedang berusaha menghentikan pendarahan luhan.
“Sehun! Dengarkan hyung!” perintah kris membuat sehun membalikan badannya menghadap kris.
“bawa luhan pergi dari sini.” Ucap kris.
Mendengar itu, sehun langsung menggelengkan kepalanya.
“aku tidak bisa membiarkan kalian disini, hyung. Jika kita mati, maka kita harus mati bersama!” teriak sehun.
‘Plaakkk..’ kris menamparnya keras hingga sehun tidak bisa mengeluarkan suaranya.
“Kris!” pekik suho.
Kris tidak menghiraukan panggilan itu, ia segera memegang kedua bahu sehun agar menghadap kearahnya.
“Sehun! Kau itu susah diatur! Sekali ini saja ikuti perintah hyung! Kita tidak akan mati sekarang jika kau membawa luhan pergi. Kau mau luhan mati disini, HAH?” bentak kris.
Sehun menggelengkan kepalanya.
“Hyung! Cepat! Mereka semakin susah dikendalikan!” teriak tao yang sudah sekuat tenaga menahan para musuh.
“Sehun, dengarkan hyung! Bawa luhan keluar dari sini. Hiduplah dengan baik diluar sana. Bersikaplah normal dan jangan menunjukan kekuatanmu pada orang luar. Kita akan bertemu lagi.” Ucap kris.
“Hyung aku sudah tidak kuat!” teriak tao dan, keadaan kembali kacau. Sehun masih diam ditempat, sampai akhirnya suara petir Chen menyadarkannya. Kris benar, mereka harus hidup.
Dengan cepat ia jongkok dan mengangkat tubuh luhan, sebelum pergi ia sempat menoleh kebelakang dan melihat kris mengacungkan jempol padanya.
“aku janji kita akan bersama lagi.” Ucapnya lirih dan segera berlari secepat anginnya.
Sehun sudah berlari sampai hutan perbatasan, ketika ia merasa sekeliling sudah aman, iapun memperlambat larinya dan sampailah ia di ladang yang sangat luas. Sekarang ia benar-benar sangat lelah, iapun menurunkan luhan perlahan dan setelah itu ia ambruk disamping luhan.
Kulit sehun memerah karena teriknya matahari, ia mencoba untuk menormalkan nafas dan detak jantungnya setelah berlari tadi. Iapun menoleh kesamping dan melihat luhan yang ternyata sudah membuka matanya dan menatap kosong kearah langit.
“kita penghianat, sehun.” Ucapnya.
“tidak, Kris hyung yang meminta.” Bantah sehun.
Luhan segera membalikkan badannya membelakangi sehun.
“semoga kita bisa hidup di dunia ini.” Harapnya sambil menutup mata, mencoba untuk melupakan semua yang telah terjadi, ia berharap ini semua hanya mimpi.
“kalian sedang apa disini?” tanya sebuah suara, saat luhan membuka matanya. Itu seorang nenek yang kesusahan membawa ember yang berisi air. Tapi luhan tidak bisa bangun, luka diperutnya masih sangat sakit. Untung saja sehun disampingnya segera bangun dan menjawab pertanyaan nenek itu, tidak seperti biasanya, sehun ramah’ pikir luhan.
“kami tersesat dan hyungku luka.” Jawab sehun sambil menoleh luhan sekilas.
Nenek itu segera meletakkan ember yang dibawanya dan menghampiri mereka berdua.
“kenapa bisa luka seperti ini?” tanya nenek itu lagi.
“Emm-i-itu tadi ada naga melukainya.” Jawab sehun terbata, ia bingung harus menjawab apa, jika tidak salah, kris pernah bilang naga juga ada di dunia luar.
Nenek itu mengerutkan keningnya, “naga? Maksudmu apa, nak? Naga sudah lama musnah.”
“Oh, maksudku-“ sehun menoleh kearah luhan karena ia tidak bisa menjawab.
“tadi ada seekor serigala menyerangku halmeonni.” Ucap luhan menyambung perkataan sehun.
“Ha~~ jadi kalian masuk ke hutan sana? Ayo cepat ikut halmeoni, kita obati lukamu.” Ucap nenek itu.
Sehun segera membantu luhan untuk bangun.
“hyung bisa jalan, kan?” tanya sehun dan mendapat anggukan dari luhan.
“ayo, ini rumah halmeoni.” Ucap nenek itu setelah sampai disebuah rumah yang terbuat dari bahan-bahan yang alam sediakan.
“rumah?” tanya sehun, luhan segera menyikut perutnya.
“ya, halmeoni hanya memiliki rumah ini.”
“bukan begitu halmeoni, maksud dongsaengku halmeoni tinggal sendiri di rumah ini?” tanya luhan mengulang perkataan sehun yang terkesan menghina, padahal sehun tidak bermaksud menghina. Ia memang tidak tahu apa itu rumah. Berhubungan luhan dikaruniai kekuatan telekinesis dan tentu ia bisa membaca pikiran orang lain, jadi ia mengerti perasaan nenek didepannya ini.
“ya, halmeoni sendiri. Tidak ada siapapun disini. Nah, ayo duduk dulu, halmeoni akan membuatkan obat untuk lukamu.” Ucap nenek itu.
Sehunpun segera membantu luhan duduk di sebuah papan kayu.
“sehun kau jangan menanyakan hal yang macam-macam!” bisik luhan.
“tapi hyung, aku benar-benar tidak mengerti.”
“diam saja dan tanyakan padaku. Kau itu bodoh atau apa sih! Ini bukan dunia kita.”
“baiklah, hyung. Aku mengerti.” Sahut sehun dengan wajah menyedihkannya yang membuat luhan merasa bersalah.
“jangan cemberut seperti itu, hyung tidak bermaksud seperti itu.” Ucap luhan pada akhirnya dan tidak lama setelah itu, nenek tadipun datang kembali.
“ini, obatilah hyungmu. Halmeoni harus pergi untuk mencari makan.”
“halmeoni!” panggil luhan.
“ada apa?”
“bolehkah kami tinggal sementara dengan halmeoni? Rumah kami yang dulu rusak.”
“tentu saja. halmeoni merasa senang.” Ucap nenek itu dan segera pergi.
Kini hari berganti sore dan nenek itu baru kembali kerumahnya. Ia melihat 2 orang namja yang tertidur di depan rumahnya. Sungguh menyedihkan, mereka terlihat seperti anak buangan padahal wajah mereka tampan. Yang satu tidur sambil duduk bersandar pada dinding (Sehun) dan yang satu tidur dengan kepalanya berada di paha sehun (Luhan).
“ kalian tidur disini.” gumam nenek itu dan segera membangunkan kedua namja dihadapannya.
“kalian pasti lapar, ayo makan ini.” Ucap sang nenek dengan menyodorkan beberapa buah-buahan pada sehun dan luhan.
Luhan segera bangun dan duduk.
“terimakasih, halmeoni.” Ucapnya.
“kalian akan lama disini?” tanya halmeoni.
“kami tidak tahu.” Jawab sehun.
“kalian masih sekolah atau tidak?”
“ha?” tanya sehun tidak mengerti, ia tidak tahu apa itu sekolah.
“tidak, halmeoni. Kami tidak sekolah. Orangtua kami sudah meninggal ketika kami masih anak-anak jadi tidak ada yang membiayai kami.” Jawab luhan, padahal dirinya sendiri tidak tahu siapa orang tuanya. Yang ia tahu, ia memiliki 1 hyung dan 10 namdongsaeng.
“Oh~~ bagaimana kalau besok kita ke kota? Disana kalian bisa melihat anak-anak yang sekolah.”
“tentu, kami akan bangun pagi dan pergi bersama halmeoni ke kota.”
Sehun hanya mengangguk-angguk walaupun ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Keesokkan harinya mereka bertigapun menelusuri jalanan untuk ke kota, ya maksud nenek ini adalah pasar dan semacamnya yang dikunjungi banyak orang.
“Hyung, mereka melihati kita.” Bisik sehun.
“abaikan saja.” balas luhan.
Bagaimana tidak dilihati, sehun dan luhan sekarang mengenakan jubah hitam. Semua orangpun pasti berpikiran negatif, mungkin saja kan mereka penjahat.
“Luhan, Sehun!” panggil halmeoni.
“Ya?” tanya luhan yang kemudian menghampiri halmeoni, diikuti sehun.
“ini coba pakai pakaian ini.” Ucap halmeoni.
“Ini untuk kami?” tanya luhan.
“tentu, kalian tidak mungkinkan terus memakai jubah seperti itu.”
“terimakasih halmeoni.”
Setelah memilih pakaian itu, merekapun melanjutkan perjalanan untuk melihat sekolah.
“Kalian mau sekolah?” tanya halmeoni, luhan segera menggelengkan kepalanya.
“Aku ingin membantu halmeoni saja dirumah.” Jawabnya.
“bagaimana denganmu, Sehun?” tanya halmeoni lagi.
“aku penasaran bagaimana dalamnya, bolehkan, hyung?” tanya sehun meminta persetujuan luhan.
“tapi halmeoni, sehunkan tidak sekolah dulunya?” tanya luhan.
“itu gampang, sehun besok kau bisa datang kesini dan begitu seterusnya. Kalian pulang duluan biar halmeoni urus yang lainnya.” Ucap halmeoni dan pergi.
Diperjalanan pulang, sehun dan luhan hanya diam saja. mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Sehun-ah, kau benar ingin sekolah?”
“tentu saja hyung.”
“tapikan, kita- Ah!” luhan bingung untuk menjelaskannya pada sehun.
“kenapa? Kita juga memiliki wujud yang sama dengan mereka. Kris hyung juga bilang agar kita bersikap normal.”
“bukan itu, sehun! Tapi dunia ini bukan dunia kita, kita tidak tahu apa yang ada disini.”
“maka dari itu aku akan mencari tahunya.”
Luhan hanya mengacak-acak rambutnya frustasi, sehun itu susah untuk diberikan nasihat.
“Hyung..” panggil sehun.
“apa?”
“a-aku aku pi-pinjam kekuatanmu, yah?” pinta sehun dengan wajah memelas.
“APA?!” bentak luhan.
“tapi hyung, kumohon.. aku kan harus jaga diri diluar sana, aku pasti tidak mengerti dengan yang mereka pikirkan. Jadi aku pinjam telepatimu.. yahhh.. hyung kan baik.” Bujuk sehun.
“tidak!”
“Hyung..”
“Tidak, Sehun!”
“Hyung, kumohonn..”
“JIKA KUBILANG TIDAK, YA TIDAK! KAU ITU-“ bentak luhan terpotong, ia mencoba untuk menenangkan diri.
“kau tinggal diam saja jika tidak mengerti.” Suruh luhan kemudian pergi.
Sehun hanya mengerucutkan bibirnya sebal.
‘dasar pelit!’ gerutunya.
__Ditempat lain__
Kris tampak mondar-mandir ditempatnya.
“Kris, luhan akan baik-baik saja.” ucap xiumin.
“aku tahu luhan bisa jaga diri, tapi bagaimana dengan bocah tengik itu? Dia susah diatur. Kuharap mereka baik-baik saja disana.”
“hyung, kapan mereka kembali?” tanya tao.
“aku belum bisa memastikannya.” Jawab kris.
“tapikan sekarang disini sudah aman hyung.” Ujar chanyeol.
“hanya sekarang, bagaimana besok?” tanya kris dingin.
Chanyeol hanya diam, ia tidak bisa menjawab.
Sedangkan itu, sang nenek tampak tergopoh-gopoh berjalan menuju ruangan kepala sekolah.
“Mr.Jung! Mr. Jung!” panggilnya.
“ada apa?” tanya namja paruh baya yang memiliki raut wajah menakutkan.
“aku menemukan mereka!”
“mereka?”
“Sehun dan Luhan!”
“Jangan bercanda!”
“aku tidak bercanda.”
“lau, dimana mereka?”
“mereka dirumahku. Jika kau tidak percaya itu benar-benar mereka, besok sehun akan sekolah kesini dan kau bisa melihatnya sendiri.”
“lalu, bagaimana dengan yang lain?”
“kemarin mereka hanya datang berdua dengan luhan yang teluka diperutnya.”
“Ohh, aku dengar juga dari yang mulia memang benar luhan luka diperut, tolong jaga dulu mereka sampai aku bisa memastikan mereka telah siap untuk dimusnahkan.”
“tentu.” Ucap sang nenek.
Dan akhirnya merekapun tertawa bersama, sepertinya nenek itu tidak baik dengan tulus pada sehun dan luhan.
__to be continue__


Tidak ada komentar:

Posting Komentar